Follow Me @suhitaarum

Rabu, 26 September 2018

Sebuah Keputusan...

12.23 0 Comments
Hai, namaku Kinar. Seorang gadis yang tengah dirundung asmara, aku memiliki seorang kekasih namanya Brian. Sudah setahun kami menjalin hubungan, memang dia tidak pernah bertanya padaku apakah aku mau menjadi pacarnya, sehingga sulit aku ungkapkan hubungan macam apa yang kami jalani. Namun, aku tau pasti hatinya hanya milikku begitupun dihatiku hanya ada dia, dia, dan dia. Singkat cerita, hubungan kami memang tidak seperti mulus seperti jalan yang baru saja diaspal sampai kamu bisa dengan nyaman melintas. Seperti hubungan pada umumnya, kami bertengkar, kami saling menyakiti, kami saling diam, tapi dia selalu bisa kembali membuatku nyaman. Aku percaya, tidak ada seorangpun di dunia yang hidup tanpa pernah menyakiti orang lain. Bagiku saling menyakiti sama dengan kita belajar untuk lebih saling memahami.

Sudah hampir dua minggu berlalu tanpa ada temu, dan aku mulai merasakan sesak didada saat aku sadar rasa itu adalah sebuah rindu. Ya karena kami dulu terbiasa menghabiskan hampir setiap hari untuk bertemu, meski hanya untuk sekedar saling bertatap dan berlalu. Dia memang sibuk, karena dia membuka les gitar. Akhirnya kita akan bertemu lagi pagi ini setelah aku merengek kepadamu untuk melepas rindu. Aku mencoba menghubungimu untuk memastikan waktu yang telah kamu janjikan.

"Nanti aku jemput jam 5 ya?" tanyaku.
"Jam 4 atau jam 5, biar lebih lama? Jam 7 aku ada ngajar." Jawabnya singkat.

Entah saat membaca jawabannya, hatiku merasa sakit. Aku memang memiliki harapan lebih untuk hari itu, aku ingin menghabiskan waktu hingga malam datang. Tidak banyak yang ingin aku lakukan, aku hanya ingin memandang wajahmu berlama-lama hingga rindu yang aku rasakan tidak begitu menyesakkan. Egois? Ya, aku sangat egois perihal apapun tentang kamu. Aku tidak ingin kamu membagi waktumu saat bersamaku, dan aku yakin kamu adalah orang yang paling paham tentang hal itu.

Harusnya pertemuan ini lebih cepat, kita sepakat bertemu kemarin sore, namun entah mengapa mungkin aku yang tidak bisa menerima jika waktu yang diberikan kepada kita untuk bersua hanya sebentar saja. Lalu kamu mengatakan bagaimana dengan hari ini, karena kamu memliki lebih banyak waktu untukku.

Waktu menunjukkan angka 09:15 saat aku mengatakan akan segera ketempatmu, dan akhirnya kita bisa bertemu. Namun, entah mengapa dihatiku terasa tidak sebahagia yang aku harapkan. Hampir tiga jam berlalu dan kita hanya sedikit berbicara satu sama lain, sisanya kita hanya menonton video di Youtube. Aku mulai memancingmu untuk berbicara lebih banyak dan serius. Katamu, kamu bingung harus bagaimana mengatakannya kepadaku. Aku sudah tau kemana arah pembicaraan kita, namun aku tetap memilih diam dan berpura-pura tidak paham. Sesaat kita sama-sama membisu, kamu diam karena sedang merangkai kata, dan aku diam sedang menata hati menerima apapun yang akan kamu ucapkan.

Aku merasa seperti seutas tali yang sudah tua dan rapuh, aku terlalu banyak digunakan hingga saat aku tergores aku mungkin sudah tidak lagi mampu menahan, aku mulai terkikis dan sebentar lagi akan putus jatuh dan akhirnya terbuang, tidak akan ada yang peduli.

"aku bertanya dalam hati, kita ini sedang mempertahankan hubungan atau sedang menunda perpisahan?"
"Aku selalu merasa bersalah dengan awal pertemuan kita, kenapa aku harus memulai semuanya. Aku yakin kamupun merasakan demikian. Kita sedari awal tau bahwa kita tidak akan pernah bisa bersatu, namun kita masih sama sama menjadi batu sampai tidak mau tau. Aku tidak pernah bermaksud menjauhimu, aku hanya mengurangi kenangan yang kita bisa habiskan bersama.  Kenangan yang pada akhirnya hanya akan menyisakan luka, menyesakkan dada, dan membuat kita merasa hampa."

Aku tetap diam mendengarkan penjelasannya yang panjang, ya aku tau ini pembahasan yang selalu aku aku pikirkan. Kamu benar, aku memang selalu meyalahkanku diriku sendiri karena aku memulai segalanya. Aku selalu menyakitimu, mebuat luka-luka kecil dihatimu yang pada akhirnya luka  itu membesar sampai kamu tak mampu lagi menutupinya.

"Kita dipertemukan satu sama lain untuk saling menguatkan, disaat kita merasa sudah tidak dapat menahan setiap keadaan. Aku ingin kita tetap saling mendukung, aku ingin mendukung setiap langkahmu sebagai seorang kakak, melindungimu setiap jalan yang kamu tempuh tapi bukan sebagai pasangan. Bolehkan aku tetap berada disisimu untuk hal ini?"
"Ya, aku mengerti." Jawabku.

Aku benar-benar mengerti, banyak hal yang tidak dapat kita ungkapkan, perasaaan yang tidak dapat kita jabarkan, bukan tidak ingin berbagi namun mungkin memang itu harus kita pendam. Setiap perpisahan memang berat, namun kita berpisah bukan untuk saling membenci, bahkan diantara kita tidak ada yang saling pergi, kita hanya memulai kembali semua dari awal lagi. Saat kamu merasakan dadamu sesak, kamu bisa berlari melewati jarak, aku selalu menyiapkan kedua lengan dan pundak, untuk mendekapmu dan melepaskan semua isak.

Semoga kamu menemukan apa yang kamu cari selama ini, dan aku akan belajar memahami bahwa menjauhi bukanlah benci, ataupun tidak bisa saling menyayangi, karena apa yang kita dekati seringkali membuat hati terasa tersakiti.

Minggu, 23 September 2018

Antara Kamu, Aku, dan Ombak di Hari Itu

15.44 0 Comments

Kamu tahu kenapa aku mulai menyukai pantai selepas kepergianmu? Ya, pantai selalu mengingatkanku padamu. Saat aku ingin membencinya karna kepergianmu, aku semakin terbayang kenangan kita disiang itu. Panas matahari yang menyengat kulit, tak pernah menyurutkan senyummu, apakah kamu bahagia melihat pantai atau kamu bahagia karena bersamaku? Entahlah, tapi saat itu aku berharap, kemanapun kita pergi kamu akan selalu memberiku senyuman itu.

Dan aku masih ingin merasakanmu bersamaan dengan ombak itu.
Kini kamu tak dapat ku rasakan lagi, aku kembali ke pantai dan berjalan menyusurinya sendiri. Sejenak aku berhenti, menunggu ombak datang menyambut langkah kaki. Ah, ombak ini sangat mirip denganmu. Dia datang sesuka hati, dan pergi tanpa permisi. Bodohnya, aku selalu menantikan ombak itu datang lagi, walaupun akhirnya dia akan kembali pergi. Sangat mirip, rasa yang ombak itu beri tidak mudah hilang seperti rasa ini, pemandangan yang indah ini menjadi satu dengan kenangan yang kita ukir dulu, meskipun aku sekarang menikmatinya sendiri. Aku tidak pernah beranggapan ombak itu jahat, karena hanya datang untuk membuatku merasakan keberadaannya, karena aku yakin ombak itu tidak berniat menyakiti. 

Aku masih berdiri, menunggunya datang kembali, namun ku lihat semakin jauh jarak antara kami, aku ingin melangkah maju dan mengejarnya, tapi entah mengapa aku tidak punya keberanian. Aku takut tiba-tiba ombak membesar, dan menenggelamkanku dalam-dalam. Kepergiannya membuatku sadar dimana batasanku sekarang, ya cukup disini. Aku akan tetap disini menunggumu untuk kembali.