Hai, namaku Kinar. Seorang gadis yang tengah dirundung
asmara, aku memiliki seorang kekasih namanya Brian. Sudah setahun kami menjalin
hubungan, memang dia tidak pernah bertanya padaku apakah aku mau menjadi
pacarnya, sehingga sulit aku ungkapkan hubungan macam apa yang kami jalani. Namun,
aku tau pasti hatinya hanya milikku begitupun dihatiku hanya ada dia, dia, dan
dia. Singkat cerita, hubungan kami memang tidak seperti mulus seperti jalan
yang baru saja diaspal sampai kamu bisa dengan nyaman melintas. Seperti hubungan
pada umumnya, kami bertengkar, kami saling menyakiti, kami saling diam, tapi dia
selalu bisa kembali membuatku nyaman. Aku percaya, tidak ada seorangpun di
dunia yang hidup tanpa pernah menyakiti orang lain. Bagiku saling menyakiti
sama dengan kita belajar untuk lebih saling memahami.
Sudah hampir dua minggu berlalu tanpa ada temu, dan aku
mulai merasakan sesak didada saat aku sadar rasa itu adalah sebuah rindu. Ya karena
kami dulu terbiasa menghabiskan hampir setiap hari untuk bertemu, meski hanya untuk
sekedar saling bertatap dan berlalu. Dia memang sibuk, karena dia membuka les
gitar. Akhirnya kita akan bertemu lagi pagi ini setelah aku merengek kepadamu
untuk melepas rindu. Aku mencoba menghubungimu untuk memastikan waktu yang
telah kamu janjikan.
"Nanti aku jemput jam 5 ya?" tanyaku.
"Jam 4 atau jam 5, biar lebih lama? Jam 7 aku ada
ngajar." Jawabnya singkat.
Entah saat membaca jawabannya, hatiku merasa sakit. Aku memang
memiliki harapan lebih untuk hari itu, aku ingin menghabiskan waktu hingga
malam datang. Tidak banyak yang ingin aku lakukan, aku hanya ingin memandang
wajahmu berlama-lama hingga rindu yang aku rasakan tidak begitu menyesakkan. Egois?
Ya, aku sangat egois perihal apapun tentang kamu. Aku tidak ingin kamu membagi
waktumu saat bersamaku, dan aku yakin kamu adalah orang yang paling paham
tentang hal itu.
Harusnya pertemuan ini lebih cepat, kita sepakat bertemu
kemarin sore, namun entah mengapa mungkin aku yang tidak bisa menerima jika
waktu yang diberikan kepada kita untuk bersua hanya sebentar saja. Lalu kamu
mengatakan bagaimana dengan hari ini, karena kamu memliki lebih banyak waktu
untukku.
Waktu menunjukkan angka 09:15 saat aku mengatakan akan
segera ketempatmu, dan akhirnya kita bisa bertemu. Namun, entah mengapa
dihatiku terasa tidak sebahagia yang aku harapkan. Hampir tiga jam berlalu dan
kita hanya sedikit berbicara satu sama lain, sisanya kita hanya menonton video
di Youtube. Aku mulai memancingmu untuk berbicara lebih banyak dan serius. Katamu,
kamu bingung harus bagaimana mengatakannya kepadaku. Aku sudah tau kemana arah
pembicaraan kita, namun aku tetap memilih diam dan berpura-pura tidak paham. Sesaat
kita sama-sama membisu, kamu diam karena sedang merangkai kata, dan aku diam
sedang menata hati menerima apapun yang akan kamu ucapkan.
Aku merasa seperti seutas tali yang sudah tua dan rapuh, aku
terlalu banyak digunakan hingga saat aku tergores aku mungkin sudah tidak lagi
mampu menahan, aku mulai terkikis dan sebentar lagi akan putus jatuh dan
akhirnya terbuang, tidak akan ada yang peduli.
![]() |
| "aku bertanya dalam hati, kita ini sedang mempertahankan hubungan atau sedang menunda perpisahan?" |
"Aku selalu merasa bersalah dengan awal pertemuan kita,
kenapa aku harus memulai semuanya. Aku yakin kamupun merasakan demikian. Kita sedari
awal tau bahwa kita tidak akan pernah bisa bersatu, namun kita masih sama sama
menjadi batu sampai tidak mau tau. Aku tidak pernah bermaksud menjauhimu, aku
hanya mengurangi kenangan yang kita bisa habiskan bersama. Kenangan yang pada akhirnya hanya akan
menyisakan luka, menyesakkan dada, dan membuat kita merasa hampa."
Aku tetap diam mendengarkan penjelasannya yang panjang, ya
aku tau ini pembahasan yang selalu aku aku pikirkan. Kamu benar, aku memang
selalu meyalahkanku diriku sendiri karena aku memulai segalanya. Aku selalu
menyakitimu, mebuat luka-luka kecil dihatimu yang pada akhirnya luka itu membesar sampai kamu tak mampu lagi
menutupinya.
"Ya, aku mengerti." Jawabku.
Aku benar-benar mengerti, banyak hal yang tidak dapat kita
ungkapkan, perasaaan yang tidak dapat kita jabarkan, bukan tidak ingin berbagi
namun mungkin memang itu harus kita pendam. Setiap perpisahan memang berat,
namun kita berpisah bukan untuk saling membenci, bahkan diantara kita tidak ada
yang saling pergi, kita hanya memulai kembali semua dari awal lagi. Saat kamu
merasakan dadamu sesak, kamu bisa berlari melewati jarak, aku selalu menyiapkan
kedua lengan dan pundak, untuk mendekapmu dan melepaskan semua isak.
Semoga kamu menemukan apa yang kamu cari selama ini, dan aku
akan belajar memahami bahwa menjauhi bukanlah benci, ataupun tidak bisa saling
menyayangi, karena apa yang kita dekati seringkali membuat hati terasa
tersakiti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar